Diriku Saat Di Kota Budaya…

sas6.jpgsas4.jpg

Kuliah…, adalah satu hal yang tidak pernah terpikirkan olehku, karena melihat kondisi ekonomi orang tua yang secara logika tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah. Bahkan bermimpi untuk itupun aku tidak berani. Bisa sekolah sampai SLTA pun adalah satu kebangaan dan anugerah luar biasa yang telah diberikan Allah. Makanya selepas SMP aku tidak mengambil sekolah menengah umum (SMU) tetapi mengambi SMK (STM), dengan harapan setelah lulus nantinya bisa langsung bekerja.

Alhamdulillah dengan tekad bulat dan restu dari orang tua, aku diterima di STM Negeri 2 Surakarta (sekarang SMK 5 Surakarta) Jurusan Teknik Mesin Perkakas (Mekanik Umum). Sebenarnya maunya ke STM 1, tetapi karena waktu itu aku adalah orang dari udik yang tidak tahu banyak seluk beluk kota Solo, aku nggak bisa menemukan lokasi STM 1, yang ternyata setelah aku masuk di STM Negeri 2 , lokasinya tidak jauh dengan STM1. Tapi pikirku saat itu, yang terpenting adalah bisa sekolah di sekolah negeri, sehingga biayanya tidak terlalu mahal.

Hari-hari kujalani dengan segala lika-liku dan dinamika kehidupan SLTA. Kehidupan baru yang kujalani saat itu agak berbeda dengan sebelumnya, karena di STM jarang sekali murid siswinya, kalaupun ada hanya beberapa gelintir itupun di jurusan lain. Kalau dikelas dan jurusanku, sama sekali tidak ada siswinya. Justru disitu asyiknya, saat itu aku tergabung dikelas MA (Mesin A, kebetulan ada MB, MC dan MD). Dikelasku ini dipenuhi oleh siswa yang cukup beragan, dari berbagai karakter. Mulai yang paling pinter se sekolah (bukan hanya se jurusan) ada dikelasku, yang paling getol aktivisnya (OSIS, Pramuka, Musik) ada dikelasku sampai yang paling BANDEL pun ada dikelasku (bahkan ada yang sampe tidak lulus ujian akhir). Pokoknya MA ada kelas yang paling SUPER, Super pinter sekaligus super BANDEL. Pernah satu waktu, aku dan temen2ku bolos berjama’ah (bareng2), ceritanya setelah ada olahraga renang, kami sepakat tidak ada satupun dari kami yang kembali ke kelas, tetapi pada main dan nongkrong di warung halte depan sekolah. Dari kejadian ini kami satu kelas dapat hukuman, membuat tulisan “Kami menyesal dengan perbuatan kami, dan tidak akan mengulangi lagi” sebanyak satu buku 32 halaman. (pegel juga…).

Satu hal yang masih kuingat juga adalah kebiasaan Kami, yang tidak pernah mau memanggil nama kami dengan nama sebenarnya, tetapi dengan nama panggilan. Macam-macam nama yang muncul dari kreativitas kami waktu itu, ada Si Black (kebetulan warna kulitnya paling hitam diantara kami, ada Si Jabrik, Si Kobong, Si Laban (rumahnya di Mojolaban), ada si Ableh, Gentho, kenthus, dan banyak lagi yang lain. AKu sendiri kebetulan dapat nama panggilan “Preman”. Awalnya nama itu muncul pada saat Orinetasi Siswa baru, kebetulan aku menjadi peserta yang cukup aktif. Karena potongan rambutku tinggal 1 centi, dan sering banyak komentar, ada seorang guru yang bilang “kamu kok kaya Preman”…. Mulai dari situlah temen-temenku memanggil aku dengan sebutan itu. Aku hanya bisa mesem-mesem saja waktu itu.

Masa-masa di STM, sama juga dengan sekolah umum (SMU), banyak juga diantara kami yang menginjak usia puber, usia dimana kami mencari identitas diri, yang kadang-kadang kalau tidak pas memilah dan memilih bisa gagal dimasa ini. Diantara temen-temenku ada yang mulai merokok, bahkan ada satu atau dua yang sampai minum-minuma beralkohol dan pil koplo. Tantangan itu begitu berat kami hadapi, aku sendiri alhamdulillah tidak sampai bersentuhan dengan barang-barang haram itu, walaupun sempat beberapa kali mencoba-coba rokok. Karena sama sekali nggak ada kenikmatan aku tidak melanjutkan. Alhamdulillah juga temen akrab (sahabat dekat) yang sering jalan sama aku adalah temen2 yang punya prinsip dan pendirian. 

Dimasa itu juga, kami mulai menyukai lawan jenis (kalau aku sudah mulai suka lawan jenis waktu masih di SMP, bahkan sempat juga terlibat cinta monyet…. he he he, malu akch,…). Kebetulan sekolah kami bersebelahan dengan SMKK yang mayoritas semua siswanya  adalah perempuan. Sebelahnya lagi ada SMEA, yang siswanya juga kebanyakan perempuan. JAdi hampir tiap hari sepulang sekolah, kami termasuk aku ngeceng dulu ke siswa sebelah (maklum dulu sama sekali belum bersentuhan dengan tarbiyah). Bahkan seringkali kami nggodain mereka, dan yang digodapun mau juga…. AKhirnya banyak temen-temenku yang “jadian” sama mereka. 

Akhirnya sampailah aku dan teman2ku dipenghujung tahun dimana kami belajar di SMK. Kami disibukkan oleh persiapan-persiapan menghadapi ujian dan test masuk dunia kerja, dua kata yang membuyarkan impian-impian Kami, yaitu KRISIS MONETER. Ternyata hal itu bukan hanya berdampak pada ekonomi makro dan mikro di negara ndonesia tercinta ini. Dirikupun kena dampak secara langsung akibat dari peristiwa itu. Tahun 1998, seharusnya memberikan kegembiraan yang luar biasa pada diriku, karena di tahun itulah aku akan lulus dan bisa langsung kerja mendapatkan uang untuk meringankan beban orang tuaku. Tetapi yang terjadi diluar dugaanku, sikap optimis yang sebelumnya begitu luar biasa untuk langsung dapat kerja setelah lulus seketika buyar, ketika semua proses rekruitmen tenaga kerja dari perusahaan rekanan sekolah ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan sebagai akibat dari adanya KRISIS MONETER. Padahal waktu itu proses seleksi sudah selesai dilakukan, daftar siapa yang diterima sudah diterbitkan, walaupun ujan akhir sendiri belum dilaksanakan.

Bingung dan putus asa menghantui kami semua waktu itu, nggak tahu apa yang akan dilakukan. Tiba-tiba saja, bu Rina (guru BP, yang kebetulan dekat denganku) memanggilku untuk menghadap keruangannya. Ada tawaran PBU (Penelusuran Bibit Unggul) dari UNY, UNS dan IKIP Semarang. Beliau mengatakan padaku untuk mengambil saja kesempatan itu, terserah mau milih yang mana diantara ketiga perguruan tinggi tersebut. Jelas saja aku bingung sekali waktu itu, bagaimana mungkin orang tuaku bisa membiayai kuliah, kalau untuk SLTA saja harus ngutang sana ngutang sini. Dalam bayanganku waktu itu, orang kuliah membutuhkan biaya yang sangat besar yang tidak mungkin terjangkau oleh kami (aku dan orangtua). Hal ini aku sampaikan kepada Bu Rina, tetapi dengan bijaksana dan sabarnya beliau menjelaskan kepadaku bahwa kuliah itu sebenarnya tidak terlalu mahal biayanya, karena bayarnya cuma 6 bulan sekali, tidak tiap bulan. Bu Rina juga menjelaskan bahwa kesempatan untuk mendapatkan beasiswa di kampus itu sangat terbuka sekali, disamping itu waktu kuliah lebih fleksibel sehingga bisa sambil bekerja. Beliau juga mencontohkan dirinya saat kuliah, juga tidak punya biaya, tetapi hal apapun kalau disertai dengan tekad, kesungguhan dan doa akhirnya semua dimudahkan Allah. nasihat yang sampai saat ini masih kuingat, bahkan kujadikan prinsip dalam hidup ini (terima kasih Bu Rina, nasihat, bimbingan, arahan dan semangatmu memberikan banyak inspirasi dalam hidupku).

Akhirnya dengan bismillah, kuberanikan diri untuk mengambil formulir, mengisi dan melengkapi dengan data-data yang diperlukan. Setelah semua persyaratan sudah terpenuhi, kukembalikan berkas itu pada Bu Rina. Dengan senyumnya yang tulus, beliau menerima dan membisikkan kembali semangat itu kepadaku. “Mohon doa dan  bimbingannya bu…” begitu kataku kepada beliau. Sampai dengan saat itu aku belum pernah cerita sama orang tua tentang rencanaku ini, aku bingung bagaimana memulainya, karena aku yakin apa yang menjadi rencanaku ini akan sangat mengagetkan mereka.

Sampai akhirnya, aku mendpatkan surat panggilan dari kampus UNY, yang memberitahukan bahwa aku diterima menjadi mahasiswa di UNY tanpa harus mengikuti test terlebih dahulu. Dari tiga orang yang ikut seleksi, kebetulan hanya satu yang lolos, padahal dua temanku (semuanya teman satu kelas) yang juga ikut daftar, punya nilai yang bagus juga bahkan satu diantaranya lebih bagus dari nilaiku, tatapi mungkin ini adalah anugerah Allah yang telah diberikan padaku. Bu Rina,… guru yang selama ini memberikan dorongan pada ku datang ke kelas mengucapkan selamat padaku, kembali atku diminta untuk menghadapnya. Kembali kalimat-kalimat yang bijak dan sarat dengan motivasi diberikan padaku, tentu saja semua itu semakin membulatkan tekadku untuk terus maju.

Gembira, bangga, tetapi bingung, itulah yang kurasakan saat itu. Aku bingung bagaimana menyampaikan ini kepada orang tuaku, aku takut membuat mereka semakin terbebani oleh rencanaku ini. Bu Rina mengatakan padaku, hal ini harus segera disampaikan kepada orang tuaku, aku agak disalahkan kenapa tidak menyampaikan sejak awal. Bahkan beliau menawarkan diri untuk datang ke rumah dan menyampaikan ini kepada orang tuaku, tetapi hal ini tidak aku setujui, “insyaallah cukup saya saja bu yang menyampaikan, ibu sudah cukup membantu saya, doakan saja saya bisa meyakinkan orang tua saya….” aku begitu kataku pada BU Rina.

Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, hal ini aku sampaikan dengan hati-hati sekali. Seperti yang sudah aku duga mereka kaget dan angkat tangan, tetapi alhamdulillah dengan penjelasan sebagaimana yang disampaikan bu Rina padaku ditambah dengan kondisi negara yang memang lagi kacau, akhirnya aku bisa meyakinkan mereka. Mulai saat itu semakin bertambah keyakinanku untuk maju, menjadi MAHASISWA, masyarakat ELIT yang sebelumnya tidak pernah aku impikan. Subhanallah…. Maha suci engkau ya Allah, satu anugerah yang begitu besar, Engkau lahirkan aku ditengah-tengah orang tua yang punya kesabaran yang luar biasa. Biarlah mereka tidak bisa memberi kasih dan sayang dalam bentuk materi, tetapi cukuplah kasih sayang dalam bentuk doa dan kesempatan yang mereka berikan…. Allahumaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayaana shogiraa…

Yach… begitulah kehidupan aku di masa SLTA, banyak dinamika dan hal yang kualami, yang megisi lembar-lembar perjalanan hidupku. Ada banyak kenangan yang baik, manis dan ngangeni, tapi tidak sedikit juga kenangan yang nggak baik, pahit, dan menyedihkan, karena ternyata baru disadari ada beberapa diantaranya yang sebenarnya tidak dianjurkan dalam islam, bahkan ada yang dilarang. Tapi semua itu menjadi guru yang paling bijak sebagaimana pepatah “the experience is the best teacher

Salam manis dan hangat buat temen-temenku semua almuni STM 2. Kenangan bersama kalian masih melekat erat di ingatanku. Mudah-mudahan kalian semua saat ini menjadi orang-orang yang sukses (dunia akhirat).

Special buat Fajar “berghamp” Triyadi, Adhi Wibowo, Agus Winarno, temen-temen satu kamar, dimana kalian sekarang…??? Kebersamaan kita dalam suka dan duka di rumah deketnya Mbah Husnul selama hampir 2 tahun itu, menorehkan catatan manis yang selalu kuingat. Ku doakan kalian dapat meraih apa yang kalian cita dan cintakan… Amien.

Salam hormat buat Ibu Rina, begitu besar jasa-jasa yang telah Engkau berikan pada kami, senyummu yang tulus, kesabaranmu, kata-katamu yang lembut dan bijak menjadi bekal diriku untuk maju kedepan dengan kepala tegak, engkau betul-betul pahlawan tanda tanda jasa. terima kasih Bu….

Bersambung…

Iklan

2 responses

4 04 2008
Ovie

Saya sangat terharu skalìgus termotivasi dg tlsn anda ini.Rasanya eman meninggalkan bangku sklh tp gk mungkin donk sklh terus2an…sbntr lg sy lulus smp&bkl msk smk tp sy bingung mlh jurusan tp stlh menbc tlsn anda sy jd lbh mantap.10 th lg jk mengingat masa2 sklg pastinya akn sngt rindu skali&ingin rsnya wkt itu diulang kmbli,sangat2 pengalaman yg tiada 2nya saya bnr2 salut…

18 12 2008
ronixs

Salut Eang SMK 5 Ngga bisa terlupakan. Sebagai alumni saya juga sangat berterima kasih pada bapak/ibu guru yang telah mencetak saya menjadi manusia bermental…. Buat anak anak SMK 5 kalo olah raga apa ya masih pada lompat pager di manahan???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: