Diriku saat di JOGJA.

akhwat1.jpglaskar-al-jihad2.jpg

Jogjakarta, dikenal dengan sebutan kota pelajar, ada juga yang mengenalnya denga kota gudeg. Akhirnya dengan perjalanan yang lumayan panjang, sampailah aku di kota ini dengan tekad yang membaja. Aku berangkat dengan membawa perbekalan secukupnya, beras, kompor, panci, wajan, dan beberapa peralatan dapur yang diperlukan, karena untuk menekan biaya hidup aku ingin masak sendiri. Agak merepotkan memang, tapi mengasyikkan.

Tahun pertama aku tinggal di tempat om-ku kos dulu saat kuliah di UGM, tepatnya di Sagan CT.V No nya lupa, yang jelas tepat dibelakang rumah sakit panti rapih, kalau naik bis turunnya di depan pom bensin sagan. Seebnarnya aku agak kurang nyaman tinggal disini, karena disamping yang punya kos orang nasrani, yang kos disitu campur antara laki-laki dan perempuan. tetapi karena ini adalah hadiah dari om-ku yang bayarin kosnya setahun, mau nggak mau aku tinggal disini. Kebetulan yang kos disitu banyakan orang UGM. Setelah tahu aku masak, mereka semua pada ikut-ikutan masak juga, padahal anaknya yang punya rumah buka warung juga.

Selanjutnya aku mulai sibuk dengan kuliah dan beberapa kegiatan yang kuikuti. Tahun pertama kuliah, disamping kegiatan perkuliahan aku juga mendaftarkan diri dibeberapa UKM, bahkan hampir semua aku daftarin, mulai dari UKKI Mujahidin, HIMA, BEM, KOMPA, Tae Kwon Do, Pramuka, Pecinta Alam MADAWIRNA sampai UKM Band SICMA pun aku masuki. SAtu hal yang kuinginkan waktu itu adalah aku ingin mencari banyak teman. Dengan banyak teman, segalanya akan lebih mudah, begitu pikirku waktu itu. Pada akhirnya karena keterbatasan dana, waktu dan potensi yang aku miliki, aku harus memilih, mana yang betul-betul aku jalani.

Di tahun pertama aku kuliah, aku merasa belum menemukan siapa sebenarnya diriku ini. Hal ini aku rasakan beberapa saat setelah mengikuti kegaiatan AMT (Achievement Motivation Training) di Masjid Mujahidin. WHO AM I, itulah satu materi yang membangunkan kesadaranku, akan pentingnya mencari jati diri ini. Senior-senior di Mujahidin sebenarnya memberikan gambaran dan kesempatan akan hal itu, tetapi belum sepenuhnya aku terima. Karena aku masih hidup di “banyak alam” di berbagai kegiatan mahasiswa (UKM) yang semua memberikan kesempatan, meski dalam titik tekan yang berbeda.

Akhirnya ditahun yang kedua, setelah berbagai macam benturan psikologis, mulai dari suasana kos yang tidak kondusif, memikirkan biaya kos yang harus dibayar, sampai dengan adanya masalah dengan “teman dekat” (waktu itu aku masih punya keyakinan bahwa pacaran adalah hal yang boleh2 saja, asal bisa membagi waktu, membagi pikiran dan tidak kebablasan,… ketika ada yang bilang bahwa pacaran adalah haram, waktu itu aku langsung mendebatnya dengan segala argumentasi logis tentang manfaat yang kurasakan dengan pacaran, bahkan dalam forum “halaqoh” yang saat itu aku ikutipun aku mempertahankan argumentasi itu, termasuk pada “murobbi” yang memimpin forum itu). Semua permasalahan itu betul-betul menjadi titik balik diriku dalam proses pencarian jati diri, yang aku lakukan untuk bisa menjawab WHO AM I.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya memutuskan untuk pindah kos. Sebenarnya aku ingin tinggal di Mujahidin (masjid kampus), tetapi karena yang tinggal disitu sudah banyak dan aku harus ngantri, aku harus mencari alternatif lain. Akhirnya ketemu sama Arifin, kakak angkatan yang sama-sama aktif di HIMA dan BEM. Beliau menawarkan aku untuk tinggal di sebuah masjid di Karangasem, namanya masjid Al-Al-JIhad. Setelah ditengokin ternyata ruangan yang ada sangat kecil, dengan ukuran kurang lebih 2.5 x 1 m, latihan didalam kubur nich (begitu pikirku waktu itu). Tetapi karena nggak ada pilihan lain (ngga punya duwit buat bayar kos)  ditambah dengan tekad yang bulat untuk betul-betul HIJRAH, maka aku terima tawaran itu. Alhamdulillah, beberapa hari setelah aku tinggal di masjid itu, ada seorang mahasiswa baru yang masih lugu dan ndeso sedang mencari tempat tinggal di masjid, mahasiswa baru UNY jurusan Teknik Elektro namanya DIAN (afwan Dian, dirimu tak katain lugu dan ndeso, he he he…. just kidding).

masadhi.jpg Akhirnya Aku dan temanku (Dian) berbagi dalam suka, duka dan canda bersama-sama tinggal di ruangan dengan ukuran 2.5 x 1 m. Walaupun ruangan itu sempit, tetapi karena hati kami lapang dan damai, kami betah dan enjoy ditempat tinggal di tempat itu. AKu sendiri baru mulai menemukan jawaban dari pertanyaan WHO AM I. Lingkungan yang kondusif, teman sekamar yang sabar dan menyenangkan serta masyarakat yang mau menerima kami dengan terbuka, membuat waktu terasa begitu cepat berlalu.

Begitulah tahun kedua sampai lulus kuliah,  aku habiskan di Masjid Al-JIhad Karangasem bersama dengan sahabat dan teman-teman yang baik, selama itu pula aku menempa diri ini dengan hakikat hidup, kehidupan dan bagaimana menjalaninya. Interaksi dengan rekan-rekan di LDK, Mujahidin, JMM Al-MUsthofa, HIMA, BEM dan juga rekan dan sahabat di DKM dan TPA Masjid Al-Ikhlash/Al-Jihad menjadikan diri ini mempunyai begitu banyak arti. Potensi Jazadiyah, fikriyah dan ruhiyah betul-betul Optimalikan. Inilah yang paling aku syukuri, dengan diberikannya kesempatan aku untuk kuliah, menghirup udara jogja, dan bertemu dengan orang-orang sholih. Bagiku ijazah sarjana bukan satu-satunya kebanggan bagi mahasiwa, yang lebih membanggakan dan membahagiakan adalah bertemunya aku HIDAYAH melalaui orang-orang sholeh, sehingga diri ini menjadi manusia yang betul-betul punya arti dalam kehidupan ini.

Bersambung…

Iklan

One response

14 08 2008
Mufassir Socheh

salam kenal mas adhi.
ada anak Teknik mesin uny ’93 disana?
tulisannya bagus dan memberikan semangat padaku. ternyata diatas langit masih ada langit. dan dibawah tanah masih ada tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: