Belajar dari Orang Jepang.

16 11 2007

Beberapa hari yang lalu aku dapat SMS dari bos-ku yang memintaku untuk bisa menghadiri meeting sebuah Asosiasi perusahaan Mold & Die Indonesia (IMDIA), kebetulan bos-ku menjadi pengurus (direksi) dalam asosiasi itu. Kehadiranku di situ mewakili bos yang kebetulan hari itu nggak bisa hadir. Memang beberapa kali aku diajak serta bos menghadiri even-even yang diselenggarakan oleh asosiasi itu. Jadi kalau beliau tidak bisa hadir, selalu meminta aku untuk bisa menggantikannya. Yaach… walaupun sebenarnya pekerjaanku sendiri cukup banyak, mau nggak mau aku harus “sam’an wa tha’atan” terhadap perintah bos-ku. Habis istirahat siang aku siap-siap untuk berangkat, karena aku baca dalam undangan itu kalau meeting akan dimulai jam 15.00, jadi sebelum jam itu aku sudah harus sampai di tempat meeting.

Tepat jam 15 kurang 10 menit aku sampai di lokasi tempat meeting. Aku pikir nanggung kalau langsung masuk karena waktu sholat ashar sudah menjelang tiba, akhirnya aku singgah dulu ke masjid untuk sholat ashar, nggak apa-apalah telat dikit. Akhirnya jam 15 lebih 20 menit aku masuk dan diantar sama resepsionis ke ruangan meeting yang sudah disediakan. Setibanya di ruangan ternyata meeting belum dimulai, dalam ruangan aku melihat beberapa orang Jepang yang sudah stand by menunggu meeting dimulai. Dan ternyata aku adalah orang lokal pertama yang hadir, karena hampir semua orang lokal yang diundang belum ada yang datang.

Dalam hati aku bertanya, sebegitu jauhkah perbedaan karakter antara kita (orang Indonesia) dengan orang Jepang. Kita ternyata bukan hanya tertinggal dalam hal teknologi dan ekonomi dengan Jepang, tetapi ternyata kita juga tertinggal dalam pembangunan karakter (character building) masyarakatnya. Ada banyak nilai yang kita orang Indoensia perlu banyak belajar dari mereka, bukan hanya sekedar belajar tentang teknologi tetapi yang tidak kalah penting adalah juga belajar bagaimana konsep pembentukan karakter (character building) yang mereka gunakan.Ada beberapa catatan tentang nilai-nilai yang dibawa dan ditunjukkan oleh orang jepang yang aku buat berdasarkan pengalaman (kebetulan 2 tahun terakhir aku sering berinteraksi dengan orang Jepang untuk urusan pekerjaan).

Pertama, Sikap dan perhatian mereka terhadap WAKTU. Tidak diragukan lagi kalau orang Jepang sangat memperhatikan waktu. Dengan konsep JIT-nya (Just In Time) yang mereka miliki, membuktikan bahwa penghargaan mereka terhadap waktu sangat luar biasa. Hitungan waktu bukan lagi dihitung dalam satuan minggu, hari atau jam, tetapi sudah dalam satuan menit bahkan detik. Sehingga selalu menerapkan disiplin waktu dalam hal apapun (nilai inilah yang belum dimiliki oleh masyarakat Indonesia, termasuk diriku yang sering telat dalam melakukan sesuatu). Coba bandingkan dengan salah satu hadits Rasulullah tentang perintah bagi kita (orang Islam) untuk bisa melakukan sholat diawal waktu. Atau kita lihat bagaiamana Allah SWT senantiasa menyebut WAKTU dalam beberapa ayat Al-Quran. Jadi tidak diragukan lagi sebenarnya Indonesia, dalam hal ini umat Islam juga memiliki konsep tentang waktu yang lebih bagus dibandingkan dengan konsep yang dimiliki oleh orang Jepang. Tetapi kenapa pada kenyataanya, banyak dari kita yang menghargai WAKTU??? Jawabannya silahkan ditanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Kedua. Konsistensi dan komitmen mereka pada ketentuan, peraturan dan kesepakatan yang telah disepakati bersama. Selama aku bergaul dengan orang Jepang (yang ada di Indonesia), hampir semuanya memiliki konsistensi dan punya komitmen yang tinggi terhadap segala hal. Satu contoh misalnya dalam satu kegiatan Factory Visit ke sebuah perusahaan Otomotif Nasional yang kebetulan diikuti oleh beberapa orang Jepang dan orang lokal, disepakati bahwa bagi yang merokok sudah disediakan tempat khusus di Smoking Area. Kebetulan sekali kebanyakan mereka (orang Jepang) adalah perokok berat, ternyata mereka betul-betul konsisten dengan peraturan itu. Berbeda dengan orang lokal, masih banyak yang bandel merokok di sembarang tempat.

Ketiga. Nasionalisme mereka pada diri dan bangsa mereka. Salah satu nilai kebaikan yang bisa diambil adalah bahwa orang Jepang begitu bangga dan percaya diri dengan diri, bangsa dan budaya yang mereka milki. Tidak ada rasa malu ketika mereka harus berbicara dengan bahsa mereka sendiri, bahkan di forum internasional sekalipun. Juga dengan huruf kanji yang mereka miliki, menjadi simbol kebanggan orang Jepang, coba saja lihat laptopnya, pasti kita akan mendapatkan system windows dengan format huruf Kanjinya Jepang. Mereka betul-betul bangga dengan PD dengan identitas yang mereka miliki. Berbeda dengan kebanyakan orang kita, banyak yang syok kebarat-baratan, malu dengan budaya sendiri, malu dengan negeri sendiri. Kebanggan muncul kalau memaki produk-produk barat dan bergaya ala barat. Tidak terasa identitas diri menjadi semakin lama semakin kabur dari masyarakat kita.

Keempat. Kebanyakan orang Jepang adalah pekerja keras, tekun, teliti dan rapi dalam melakukan suatu aktivitas pekerjaan. Semuanya diperhatikan, bahkan sampai hal-hal yang kecil sekalipun. Pernah suatu waktu aku berjalan-jalan di workshop dengan orang Jepang (Mr. Kikuo ENDO, kebetulan dia menjadi expert dalam sebuah project). Secara tidak sengaja aku menjatuhkan uang recehan 500-an (maklum punyanya memang recehan) di lantai workshop, aku biarkan saja karena aku pikir biarlah toch Cuma 500 rupiah, kebetulan waktu itu buru-buru. Ternyata uang itu diambil sama orang Jepang itu dan setelah diruangan Dia cerita banyak tentang uang itu, bahwa barang kecil itu bisa berakibat fatal kalau tidak diambil dengan banyak penjelasan yang semuanya sangat masuk akal, dan itu tidak terpikirkan sedikitpun olehku.

Itulah berbagai hal yang bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini. Masih banyak sebenarnya yang bisa kita ambil pelajaran dari mereka, tetapi dengan empat hal itu kayaknya cukuplah kalau sekedar untuk memberikan perbaikan kesejahteraan hidup masyarakat kita. Bukannya aku memuja-muja mereka, tidak sama sekali, karena bagaimanapun kelemahan mereka juga banyak (terutana dalam hal agama, keyakinan dan orientasi hidup yang kebanyakan mereka menganggap tidak penting, sehingga apapun agama tidak penting buat mereka, karena orientasi mereka adalah materi) tetapi tidak ada salahnya kalau kita mengambil kebaikan yang mereka miliki, karena kebaikan bisa berasal dari siapa saja. Semoga saja pelajaran itu bisa menjadi pelengkap bagi kita untuk mengamalkan nilai-nilai dalam Islam secara kaffah. Amien. Wallahu alam bishowab.

Iklan

Aksi

Information

2 responses

18 12 2007
Abdul Aziz

Assalamu’alaikum pak adhi yang dirahmati Allah

Ya, memang kita harus akui bahwa kita banyak tertinggal oleh orang-orang jepang, seperti apa yang pak adhi bilang kita tidak hanya tertinggal dalam bidang teknologi saja tetapi dalam hal sikap dan karakterpun tertinggal jauh…………. nah maka dari itu sudah merupakan tugas yang otomatis harus kita ambil untuk membangun karakter bangsa ini, tentunya dimulai dari sekup yang lebih kecil dahulu, yang perlahan tapi pasti akan berimbas pada komunitas, dan akhirnya berimbas pada sebuah negara, untuk mewujudkan itu kita membutuhkan banyak orang-orang seperti pak adhi yang rela memberikan waktu dan perhatian serta pemikirannya untuk sesama………….
sebagai penutup saya ber doa’ semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap beristiqomah dengan apa yang kita cita-citakan…… Amieeen……………………..!

19 12 2007
adhisaputra

# @ Akh Azis.

Jazakallah akh sudah mau mampir. Mudah-mudahan harapan Antum dan Kita semua untuk menjadi orang2 yang istiqomah dapat diijabah oleh Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: