Membangun “Baiti Jannati”

7 11 2007

Sedamai alam raya Menghijau luas membentang Seindah lukisan TuhanYang tak pernah lelah memuji KeagunganNya. 

Itulah kerinduan, dambaan setiap insan, Menginginkan hidup damai, aman dan harmoni…. 

Sayup-sayup kudengar alunan nasyid yang didendangkan oleh Tazzaka dari speaker SIMBADA komputerku. Perasaan sudah cukup lama aku nggak dengerin nasyid ini. Dimasanya nasyid ini sempet ngebooming, dan cukup digemari oleh para penggemar nasyid, termasuk diriku dan temen-temen yang ghiroh nasyidnya masih tinggi (jadi inget  MIZAN). Nasyid yang cukup ngepop ini mengingatkanku pada sebuah azzam yang dulu sempet aku bangun dalam diri, bahwa keluarga adalah benteng dan pondasi pertama yang harus dibangun dalam mengaktualisasikan (mengamalkan red.) nilai-nilai dalam Islam. Tanpa itu mustahil nilai dan peradaban ISLam bisa tegak di bumi ini.  

Makanya dulu beberapa kali aku sempatkan untuk mencari mencari informasi sebanyak mungkin tentang bagaimana membangun sebuah keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Beberapa bukupun sudah kubaca, beberapa kajian, bedah buku dan seminar juga aku ikuti agar aku bisa betul-betul memahami langkah-langkah menuju kesana.  

Sekarang kesempatan untuk mengamalkan konsep itu sudah terbuka lebar.Ternyata betul kata Pa Didik (Ust. Didik Purwodarsono, Dai dari Jogja), bahwa berkeluarga adalah saatnya membenturkan antara idealisme dan realita. Bekal dan konsep dan pengetahuan yang kita peroleh, tidak begitu saja dapat kita implementasikan.Ada banyak hal yang terjadi diluar skenario kita dan kita harus siap menghadapinya andai saja itu terjadi.  

Aku juga masih ingat pesen dan nasihat beliau (Pa Didik), bahwa kalau kita sudah punya niat untuk berkeluarga jangan sampai kita membayangkan berkeluarga sebagaimana orang yang pergi bertamasya, dimana yang kita bayangkan adalah sesuatu yang indah2, mau makan ada yang masakin, mau pakai baju ada yang nyuciin dan nyetrikain, capek ada yang mijitin dll. Karena dengan berkeluarga, kata beliau justru kita dituntut lebih banyak untuk memberikan kewajiban kita dari pada menuntut hak kita. Jadi beliau waktu itu mengibaratkan orang yang akan berkeluarga sama dengan orang yang akan berpetualang di gunung atau hutan yang luas, segala kemungkinan dari yang paling baik sampai yang paling buruk bisa terjadi didalamnya, jadi harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin. 

Ternyata nasihat dan pesen Pa Didik betul adanya (maklum beliau adalah Da’i sekaligus bapak dari 6 orang anak yang pada pertemuanku yang terakhir dengan beliau, tahun 2003 masih kecil-kecil, so pengalamannya sudah luar biasa). Setelah berkeluarga memang masing-masing harus mengedepankan untuk bisa memenuhi kewajiban dari pada menuntut hak. Kalau dulu waktu masih sendiri, nyuci bajunya sendiri maka sekarang ada baju anak kita yang  kadang-kadang harus kita cuciin juga, kalau dulu bisa tidur nyenyak nggak ada yang ngegangguin, sekarang kita harus rela bangun malam-malam untuk nggantiin popok anak kita yang ngompol atau sekedar menemani anak kita yang terbangun. Masih banyak lagi hal-hal lain yang pasti akan kita temui dalam membangun sebuah keluarga. 

Sebuah kesimpulan sederhana dari tulisan diatas, bahwa untuk membangun sebuah keluarga yang menjadi perwujudan dari “Baiti Jannati” disamping membekali diri dengan ilmu dan pengathuan tentangnya, juga harus ditambah dengan adanya kemauan dari masing-masing pihak untuk saling bekerja sama dalam menunaikan hak dan kewajiban. Disamping itu harus saling memahami bahwa masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan dan yang terpenting adalah meluruskan niat bahwa berkeluarga adalah bagian dari ibadah yang dengan berkeluarga maka akan terbuka ladang amal kita untuk bersama-sama menggapai Ridho Allah SWT.  

Teriring salam manisku untuk “bidadariku” nun jauh disana yang beberapa bulan yang lalu menggenapkan diennya. Barokallahu laka wa baroka alaika wa jama’a baina kuma fi khoir. 

Iklan

Aksi

Information

One response

19 11 2007
wulan

Artikel bgs mas, cocok dg mslh sy.Mnta pndapat,boleh ga ya wanita bilang simpatik krn Allah SWT ke seseorang yg qt kagumi. Walau sy sadar bnr mngkin dy bkn jodoh sy soalnya jauuuuuuuuuhhhhhhhhhhhh bgt kl dibandingin. Mulai simpatik sm org ini krn bbrapa kali sy ketemu dy di mimpi & mimpinya bgs sekali dy jd imam sholat sy&bbrapa teman jd makumnya, jd gara2 mimpi sy simpatik ma seseorng, ini kali prtama dlm hidup sy mngalami hal spt itu. Sy sadar btul mimpi itu bkn suatu pembenaran sikap sy. Pernah bc artilkel kl nikah itu anggap sbg suatu usaha bkn beban, salah ga kl sy anggap ini sbg usaha. Sy dah dewasa sgt sadar betul konsekwensinya apa nanti,sy jg sgt siap kl memang qt ga jodoh, entah knp sy ingin dy tahu kl saya simpatik pdnya krn AllahSWT. Mhn dibantu dijawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: