Pagi itu kurang lebih jam setengah empat, udara masih terasa cukup dingin. Disaat sebagian besar makhluk asyik masyuk dalam buaian mimpi. Sebagaimana halnya diriku yang masih menikmati bercegkerama dengan pulau kapuk (bantal red.)
Tiba-tiba ada tangan halus, mungil dan lembut yang mencakar-cakar mukaku, mengganggu kenikmatan tidurku. Ingin rasanya marah, siapa sich yang iseng nggangguin kenikmtan orang. Setelah mataku terbuka, ada satu sosok kecil nan mungil dengan senyum dan celotehnya yang khas didepanku. Ooo,… ternyata malaikat kecilku. Wajah lugu dan tak berdosa itu begitu lembut meluruhkan amarah dan rasa kantukku.
Alifa… yang biasa kupanggil Iffa, malaikat kecilku itu tidak terasa sudah berusia 4 bulan. Sudah bisa berceloteh, tengkurap dan berputar-putar, sehingga Abi sama Uminya harus ekstra hati-hati menjaganya, kalau tidak bisa-bisa jatuh ke lantai. Pernah satu malam kira-kira 2 hari yang lalu, Alifa kecilku bangun, karena merasa ngga ada yang menemani akhirnya di main sendirian, sementara Abi dan Uminya masih terlelap buaian mimpi. Tahu-tahu kepalanya sudah kepentok tembok, sementara mukanya tertutup sama selimutnya. Alhamdulillah, teriakan kecilnya bisa membangunkan Abi-Uminya sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak sempat terjadi.
Alifa, bidadari kecilku… Begitu banyak memberi arti dalam hidupku. Senyumnya begitu membuatku ingin segera pulang kerumah, ketika sedang beraktivitas diluar. Rasa capek, lelah, suntuk, seketika luruh oleh sapaan manisnya. Alifa-ku, menjadi sumber inspirasi dalam hidupku, menjadi sumber motivasi dalam aktivitasku, menjadi penyejuk hati dikala sedang merasakan keringnya kalbu.
Alifa-ku, bidadari kecilku. semoga Engkau kelak menjadi anak sholihah, jundiyah muthiah, menjadi daiyah penerus risalah dakwah. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kemudahan dalam setiap langkah-langkahmu… Allahuma, Robbana hablana min azwaazina wa dzurriatina qurro taayyun wa ja’alna lil mutaqiina imamaa. Amiin.
Komentar Terbaru