Hampir lima tahun sudah kutinggalkan “Jogjaku”, setelah empat tahun lebih aku membersamai kota gudeg itu. Ada banyak cerita yang mengisi perjalanan hidupku ketika selama empat tahun itu kutapaki langkah-langkah kakiku dalam mencari jati diri, memupuk idealisme, mengisi pengathuan diri tentang kehidupan dan penghidupan. Hampir seluruh sudut-sudut kota Jogja sudah kusambangi, mulai dari Malioboro, kali urng, gunung kidul bahkan sampai kulon progo, bantul dan cangkringan yang terkenal dengan mBebeng, kali kuning dan susu segarnya. Semua membawa kesan yang luar biasa, yang pasti akan menjadi kisah unik dan menarik yang mengisi dan menghiasi perjalan hidupku.
Akan tetapi dari sekian kesan dan cerita, ada satu komunitas yang begitu dalam menghujam ke dalam hati dan ingatanku. Ketika dengan segala canda dan ceria, segala suka dan duka setiap hari mengisi hari-hariku. Karangasem, dengan Al-JIhad dan Al-Ikhlash, benar-benar menjadi tempat yang turut mengukir dan mendesain pola tingkah, pola sikap dan pola pikir yang saat ini menjadi pijakanku.
Karangasem, dengan segala hiruk pikuknya dan orang-orang yang ada didalamnya masih begitu jelas terbayang dalam ingatanku. Pak Genep dengan warung SAERAHnya, Pak Yitno dengan sikap tegasnya, Bu Siswantoro dengan sikap keibuan dan rada galaknya, Pak Kasno, Pak Jadi, Pak Wonggo, Pak Dwijo (almarhum) dan ibu yang begitu sabar dan sering memberikan nasi bungkusnya dan masih banyak lagi nama-nama dan wajah-wajah yang sampai saat ini masih melekat dalam ingatanku. Semoga Bapak dan Ibu semuanya senantiasa dalam lindunganNya. Amin.
Tidak ketinggalan pula, adik-adik manisku yang selalu mengisi hari-hariku (terutama disore hari). Entah kini kalian sudah segede apa, Ida yang lucu, Fauzan yang nakal, Fatma & Sari yang agak kemayu (pasti kalian sekarang sudah jadi AKHWAT, mudah-mudahan), Saras dan Gembil yang gendut (mudah2n sekarang agak langsingan ya). Keceriaan dan kenakalan kalian begitu membekas dalam sanubariku. Pengalaman yang begitu berharga, bahkan teramat berharga ketika kalian mengisi hari-hariku.Mas Adhi doakan agar kalian semua menjadi generasi yang Robbani.

Terakhir, Buat Saudara dan Sahabat-sahabatku semua IKhwan dan Akhwat di Al-Ikhlash (ngga terasa ada tetes air mata yang menggenang di mataku, terserah saja kalau kemudian dianggap laki-laki yang cengeng). Seungguh luar biasa kebersamaan dan ukhuwah yang kalian tunjukkan. Dian (masih kau ingat ketika kita tinggal bersama dalam satu kamar yang berukuran 1 x 2 m) semoga ini menjadi pelajaran buat kita bahwa suatu saat itulah tempat kita yang sesungguhnya di alam kubur nanti. Arifin dengan kecerdasannya yang luar biasa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang bersama dengannya, Mas Amin dengan sikap dewasa dan kesabarannya yang luar biasa, MAs Adi dengan ketulusan hatinya (Semoga sukses dengan dakwah di PeKaEs Bloranya), Nur IKhwan dengan keceriaan dan sikap ngeyelnya, Erik dengan senyum khasnya, Rahmat dengan suara merdunya yang mendayu-dayu (denger2 sudah jadi bos nich), Munir, Saepul, Padmo, Agus, Fauzi (Sahabat dan teman2 di KAMBOJA 10). Spesial buat Ansyar Brutu, Mas ANdi (kalian begitu spesial dimataku. Termasuk mas DARSONO (dengan gaya khasnya)

Juga buat sahabiyah akhwat Karangasem yang luar biasa ghirohnya. Mba Ida, Mba Irul (kaka beradik yang beda tapi sama-sama semangat), Mba Zul, Mba Rita dan mbak2 ku semua di QONITA (afwan Aku lebih suka panggil kalian mba, buka Ukh, toch mangsudnya sama), Mba Puji, Mba Wati, Mba DIta, Mba Intin, Mba Afifah serta mbak2 semua yang ada di Nadia, Azzahro, Balqis. Pelajaran dan dan kebersamaan yang kita bangun dalam bingkai iman dan islam semoga masih tetap terjaga sampai sekarang. Saat ini ku yakin sebagian besar kalian sudah asyik dengan amanah baru kalian dengan jundi/jundiyah kalian. Semoga sukses dan Ridho Allah senantiasa membersamai kalian.
Bersambung….
Komentar Terbaru